Latest Post

Mari Memahami Diversifikasi investasi Tambang Nikel di Pulau Obi Sebagai Penghasil Bahan Utama untuk Baterai Kendaraan Listrik

Kekayaan alam Indonesia memberikan banyak keragaman hewani. Jumlah daerah perairan yang luas menjadi tempat hidup berbagai jenis makhluk hidup, khususnya ikan. Salah satu yang menjadi maskot ikan hias asli Indonesia adalah Ikan Capungan Banggai.

Dilansir dari indonesia.go.id, ikan dengan nama latin Pterapogon kauderni ini berasal dari wilayah Timur Indonesia. Melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 2 Tahun 2021 resmi menjadi ikan endemik mewakili 650 spesies ikan hias lainnya yang hidup di perairan laut Indonesia.

Badannya pipih dengan sirip yang menjuntai. Ini termasuk pada sirip ekornya yang seperti terbelah. Tak terlalu panjang, capungan banggai hanya sekitar 7-8 sentimeter yang dihiasi sisik-sisik halus dan berkilau dengan warna emas, perak, ataupun coklat tua tembaga.

Terdapat tiga pita berwarna hitam yang melintang pada tubuh ikan hias ini, pada bagian kepala, memanjang dari sirip perut naik ke sirip punggung depan, dan terakhir pada sirip anal melintasi perut lalu memanjang hingga ujung sirip punggung.

Ikan Capungan Banggai juga memiliki siklus yang unik, yakni mencapai usia dewasa pada tahun pertamanya dan mampu hidup hingga lima tahun dengan kondisi lingkungan yang sehat. Bila di lingkungan alamnya, ikan ini hidup berkelompok hingga mencapai 40 ekor.

Pada proses perkawinannya, jantan akan berenang melingkari betina. Bila keduanya cocok, mereka akan memisahkan diri dari kelompoknya dan melakukan perkawinan. Setelah itu, pembuahan akan dilakukan secara eksternal. Tugas ikan pejantan untuk memantau dan telur yang telah terbuahi akan dimasukan ke dalam perutnya untuk di perami dalam kurun waktu 10-12 hari hingga menetas.

Selama proses ini, pejantan akan menjalani puasa penuh dan akan membakar cadangan lemak pada tubuhnya. Hal ini diperlukan guna menjaga metabolisme tubuhnya tetap berfungsi dengan baik. Pada saat ini pula, bayi-bayi ikan akan tumbuh dengan cadangan nutrisi yang dibawa sejak dalam bentuk telur.

Biasanya, rata-rata telur yang terbuahi dalam satu perkawinan hingga 40 butir telur. Guna menampung bayi-bayi ikan, sang pejantan akan mengembungkan rongga mulutnya, terutama pada bagian rahang bawang.

Perlu 7-8 hari untuk pejantan mengeluarkan bayi-bayi capungan banggai yang telah menetas. Di saat ini, bayi ikan tumbuh dengan morfologi yang lengkap dari mulut hingga ke ekor dengan panjang delapan milimeter. Di sinilah pejantan akan memuntahkan anak-anaknya dari mulut.

Nama Ikan Capungan Banggai mulai masuk ke glosari ikan sejak 1920. Penemunya adalah Walter Kaudern yang meyakininya sebagai satwa endemik yang hidup di Kepulauan Banggai, Sulawesi Tengah. Namun lewat campur tangan manusia, ikan ini dapat dijumpai pada perairan Teluk Palu, Kendari, Ambon, Gorontalo, hingga ke Bali.

RAHMAT AMIN SIREGAR

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *